Tantangan Utama Dalam Supply Chain Indonesia


Pasar e-commerce terbesar di dunia saat ini berada di Indonesia, dengan pendapatan mencapai 43 miliar dolar, melibatkan lebih dari 30 juta konsumen pada 2021. Konsumen di Indonesia sendiri ini aktif berbelanja online melalui beragam platform e-commerce.
Ekonomi digital Indonesia menawarkan peluang besar bagi belanja online dengan distribusi e-commerce. yang memanfaatkan infrastruktur transportasi laut dan darat. Investasi bisnis di negara ini, yang terdiri dari hampir 20.000 pulau, dapat memberikan keuntungan besar melalui produk dan layanan konsumen.
Tumbuhnya E-commerce di Indonesia
Indonesia menjadi magnet industri e-commerce di Asia-Pasifik, di mana bisnis regional dan internasional bersaing memperebutkan pangsa pasar yang menggiurkan. Pertumbuhan e-commerce dipicu oleh peningkatan penggunaan internet, digitalisasi yang merajalela, dan perkembangan situs web.
Pertumbuhan e-commerce di Indonesia di masa depan diperkirakan mencapai dua digit, dengan tingkat penetrasi internet hampir mencapai 72,87% pada 2021. Dengan meningkatnya jumlah pembeli online di Indonesia dari 75 juta menjadi 85 juta, permintaan akan pengiriman produk semakin meningkat.
Hal ini secara langsung mendorong perluasan pelayanan logistik untuk menanggapi pertumbuhan pesat e-commerce.
Meskipun Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemain penting dalam perdagangan global, lanskap supply chain-nya terdiversifikasi dan rumit. Negara ini menghadapi sejumlah kendala yang menghalangi operasional rantai pasokan secara efisien dan efektif.
Tantangan Logistik Saat Ini di Indonesia
Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, Indonesia berhasil meningkatkan peringkat Logistics Performance Index melalui penguatan infrastruktur logistik, terutama jalan raya. Hal ini membuktikan komitmen Indonesia dalam pengembangan sektor logistik.
Hal ini memungkinkan Indonesia naik 29 peringkat dari peringkat 75 pada tahun 2010 menjadi peringkat 46 pada tahun 2018.
Kinerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain karena layanan logistik dan supply chain yang di bawah standar serta masalah mendasar yang banyak. Meskipun demikian, upaya peningkatan terus dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut.
Oleh karena itu, Indonesia harus mengembangkan industri logistik dan supply chain yang matang dengan layanan yang efektif dan terjangkau.
1. Supply Chain yang Mahal dan Tidak Efisien
Ada banyak kendala berbeda yang harus diatasi oleh penyedia layanan logistik, terutama dalam bidang pengiriman jarak jauh, karena jadwal yang ketat.
Pengiriman konvensional membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai, sementara layanan berdasarkan permintaan dapat lebih cepat, namun dengan biaya lebih tinggi dan jarak yang lebih pendek. Meskipun demikian, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Rasio biaya logistik terhadap PDB Indonesia tiga kali lebih tinggi dibandingkan lima negara acuan karena kurangnya pemanfaatan kapasitas transportasi dan lamanya waktu pengiriman. Maka, Indonesia perlu informasi pasar yang jelas untuk merencanakan pasokan dan permintaan secara efektif.
Pengiriman di Indonesia juga jauh lebih mahal daripada negara-negara tetangga di Asia Tenggara, dengan beban keluar tiga kali lebih mahal dari beban masuk.
Ini menunjukkan kurangnya efisiensi dalam penggunaan kapasitas dan kesulitan logistik menyebabkan operasional di bawah standar, dengan waktu pengiriman domestik lebih lama dibandingkan negara pesaing.
Keterbatasan pelabuhan, kereta api, dan jalan raya di Indonesia menjadi hambatan besar bagi sektor logistik karena memperlambat pengiriman barang. Pulau Jawa dan Sumatera merupakan satu-satunya yang dilayani oleh kereta api komersial, sementara konektivitas antar pulau terhambat oleh kinerja pelabuhan yang buruk.
2. Kurangnya Dukungan
Kinerja logistik di Indonesia dan ekosistem supply chain berada di bawah ekspektasi karena industri yang sangat terfragmentasi dan adopsi teknologi yang tidak memadai. Pemasok memerlukan lebih banyak kemampuan dalam teknologi dan pendanaan untuk menghasilkan barang dan jasa berkualitas tinggi.
Di wilayah pedalaman, pengelola modal dan gudang membutuhkan akses teknologi digital. Namun, perusahaan angkutan truk lokal masih kekurangan teknologi dan keterampilan otomatisasi, serta melakukan pencatatan log pengiriman secara manual.
Prosedur kepabeanan di Indonesia memakan waktu hampir satu hari lebih lama dibandingkan dengan Tiongkok, Singapura, dan Malaysia, menyebabkan banyak penyedia logistik beroperasi di lingkungan di bawah standar. Karena permasalahan infrastruktur fisik dan teknologi, ekosistem logistik dan supply chain di Indonesia tidak seefisien negara lain.
Kemajuan negara menuju logistik dan supply chain nasional yang lebih baik terhambat permasalahan mendasar ini, sehingga menyebabkan lingkaran setan. Oleh karena itu, solusi digital digunakan oleh negara-negara di seluruh dunia untuk membangun kembali supply chain dan industri logistik mereka.
Tantangan supply chain di Indonesia meliputi infrastruktur yang belum memadai, prosedur kepabeanan yang lambat, dan kurangnya adopsi teknologi. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perlu beralih ke solusi logistik digital terintegrasi.
Dengan Shipper, bisnis dapat mengelola kebutuhan operasional dengan efisien dalam satu platform yang andal. Shipper juga menawarkan solusi manajemen supply chain yang menyeluruh, memanfaatkan teknologi terintegrasi untuk mempercepat proses logistik.



