Pahami 5 Proses Supply Chain untuk Meningkatkan Bisnis


Proses supply chain yang efektif memengaruhi manajemen biaya, mitigasi risiko, dan kepuasan pelanggan dengan signifikan. Degan proses yang efisien tentunya akan menjadi kunci utama dalam kesuksesan bisnis, menyumbang pada kesehatan keuangan dan pengiriman tepat waktu kepada pelanggan.
Dengan fokus pada peningkatan proses supply chain, bisnis dapat meningkatkan kualitas produk dan menghindari kekurangan atau kelebihan pasokan. Ini juga membantu meningkatkan kepuasan pelanggan, melindungi terhadap risiko rantai pasokan, dan mengurangi biaya secara signifikan.
Supply chain mencakup aliran barang, bahan, dan jasa, mendukung operasi bisnis dari bahan mentah hingga pengiriman barang jadi. Sebagai bagian integral dari setiap bisnis, perusahaan bertanggung jawab membangun dan mengelola pasokan agar sesuai dengan tujuan.
Dengan keterlibatan dari pemasok, produsen, distributor, dan pelanggan, proses supply chain bisa dibagi menjadi langkah-langkah berikut:
1. Perencanaan dan demand management
Langkah pertama dalam membangun supply chain yang efisien adalah memperkirakan permintaan pelanggan untuk menjamin ketersediaan produk. Biasanya, perkiraan permintaan dimulai dengan mengumpulkan dan menganalisis data penjualan sebelumnya untuk proyeksi penjualan di masa mendatang.
Contohnya, bila terjadi pertumbuhan penjualan sebesar 10% setiap bulannya, Anda bisa memproyeksikan bahwa penjualan akan terus meningkat pada kuartal atau tahun berikutnya.
Perkiraan permintaan dapat memanfaatkan informasi eksternal, seperti perubahan perilaku pelanggan dan tren makroekonomi, seperti suku bunga. Misalnya, ketika suku bunga rendah, pembelian yang memerlukan pembiayaan, seperti kendaraan dan rumah, cenderung meningkat.
Setelah memperoleh perkiraan tersebut, Anda bisa menggunakannya dalam perencanaan permintaan untuk menyesuaikan pesanan dan aktivitas supply chain. Hal ini bertujuan untuk mencapai keseimbangan inventaris yang sesuai dengan kebutuhan.
2. Pengadaan
Pengadaan, yang juga disebut sumber atau chain management melibatkan pencarian dan pembelian bahan untuk memenuhi perkiraan permintaan. Ini meliputi:
- Menemukan vendor
- Memastikan bahan sesuai spesifikasi produk
- Menegosiasikan harga
- Memperoleh jumlah bahan yang tepat
Setelah menemukan vendor, sebagian besar proses pengadaan melibatkan pemantauan pasokan serta penyesuaian pesanan sesuai permintaan. Namun, yang terutama, pengadaan membutuhkan pembangunan kemitraan erat dengan vendor-vendor utama.
Melalui tindakan seperti membayar tepat waktu, menjaga komunikasi terbuka, dan memberi waktu tunggu yang cukup, Anda memperkuat hubungan dengan pemasok. Dengan begitu, Anda menciptakan peluang kolaborasi yang lebih besar dan mengidentifikasi kesempatan saling menguntungkan.
Hasilnya vendor akan cenderung memprioritaskan bisnis Anda, memastikan pesanan tepat waktu, dan memenuhi standar kualitas.
3. Perencanaan Produksi
Strategi produksi Anda mencakup semua langkah untuk mengubah bahan menjadi barang jadi, termasuk manufaktur, kontrol kualitas, dan pengemasan. Ini melibatkan berbagai subtugas yang harus diperhatikan secara menyeluruh untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Pada tahap ini, sangat penting untuk mengurangi inefisiensi dan pemborosan yang dapat mempengaruhi kualitas produk serta margin keuntungan. Misalnya, jika karyawan mengoperasikan mesin tanpa pelatihan, ini dapat menghasilkan lebih banyak produk gagal yang harus dibuang.
4. Inventory Management
Inventory management melibatkan pemahaman yang jelas tentang jumlah dan lokasi setiap produk yang Anda miliki. Ini memastikan keseimbangan antara ketersediaan yang memadai dan menghindari penumpukan persediaan yang berlebihan.
Ada beberapa teknik inventory management yang populer dilakukan, seperti:
- Materials requirements planning: Mengisi inventory berdasarkan kebutuhan yang ditentukan oleh informasi permintaan pelanggan.
- Just-in-time Management (JIT): Diperlukan kolaborasi yang intensif dengan pemasok dan pengiriman bahan yang tepat waktu sebelum memulai proses produksi.
- Days sales of inventory (DSI): Sebelum memulai produksi, diperlukan kerja sama yang intensif dengan pemasok dan pengiriman bahan yang tepat waktu.
- ABC Analysis: Sebelum memulai produksi, kerja sama yang intensif dengan pemasok serta pengiriman bahan tepat waktu diperlukan.
5. Pengiriman dan Order Fulfillment
Terakhir adalah dengan memiliki pengiriman dan fulfillment order, yang melibatkan proses penyerahan barang yang dibeli kepada pelanggan. Untuk pelanggan tatap muka, langkah ini lebih sederhana karena mencakup pemrosesan pesanan, pembayaran, dan pengemasan produk.
Perusahaan dapat memilih dari beberapa metode pemenuhan, termasuk:
- Direct-to-consumer (D2C): Anda bertanggung jawab atas manajemen inventaris dan mengurus semua pengiriman kepada konsumen.
- Stores as fulfillment centers: Teknik ini melibatkan prosedur seperti pengambilan di tepi jalan dan pembelian daring, serta pengambilan di toko (BOPIS).
- Third-party-logistics (3PL): Anda memutuskan untuk menyerahkan penyimpanan dan pemenuhan pesanan Anda ke pusat distribusi yang dioperasikan pihak ketiga.
- Dropshipping: Anda bergantung pada produsen untuk mengirimkan produk, sebuah metode pemenuhan yang umum digunakan oleh toko e-niaga yang tidak menyimpan inventory sendiri.
Proses supply chain merupakan tulang punggung operasional bisnis, memastikan ketersediaan bahan, efisiensi produksi, hingga pengiriman tepat waktu kepada pelanggan. Dalam era globalisasi ini, Supply Chain Management yang terintegrasi dan andal menjadi penting.
Shipper, dengan solusi Shipper 360, menawarkan pemenuhan supply chain yang komprehensif, mencakup kebutuhan gudang, fulfillment, hingga pengiriman. Diperkuat dengan teknologi terintegrasi, Shipper 360 mengoptimalkan operasional bisnis Anda, meningkatkan efisiensi, dan memastikan kepuasan pelanggan.



